Tampilkan postingan dengan label SMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SMA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Maret 2020

Penelitian Sosial


Materi Sosiologi kelas X Semester 2 untuk Kompetensi Dasar 3.4 mengenai penelitian sosial. Materi ini materi yang memiliki daya serap rendah pada waktu ujian nasional sehingga membutuhkan semangat untuk belajar. Materi ini juga sangat dibutuhkan dalam materi selanjutnya di kelas XI dan XII sehingga akan membantu dalam menyelesaikan materi sosiologi di SMA.

simak dan baca berita dibawah ini:

Bacaan kasus tentang Metodelogi Penelitian


Setelah kalian membaca kasus diatas maka perlu kita mempelajari tentang cara membuat penelitian yang dapat dipercayai oleh semua orang.
Banyak pertanyaan diantaranya kalian yang masih menginjak siswa kelas X, mungkin diantaranya

  • Apa penelitian sosial itu?
  • Mengapa melakukan penelitian sosial?
  • Apa manfaat mempelajari materi  ini?
  • Bagimana Penelitian sosial itu?
  • Dimana kita bisa membuat penelitian sosial?
  • Siapa yang dapat membuat penelitian sosial itu?
Simak video dibawah ini


Manusia adalah makhluk yang mempunyai kesadaran. Kesadaran manu­sia itu dapat disimpulkan dari kemampuannya untuk berpikir, berkehendak dan berperasaan. Dengan pikiran untuk mendapatkan ilmu pengetahuan; kehendak untuk mengarahkan perilaku; dan dengan perasaan untuk merasakan kese­nangan atau kesedihan. Sarana untuk memelihara dan meningkatkan ilmu pengetahuan dina­makan logika; perilaku dengan etika; dan mutu kesenian dengan estetika.

Pengetahuan adalah kesan yang ada di dalam pikiran manusia seba­gai hasil darI penggunaan inderanya. Berbeda dengan kepercayaan dan tahayul yang sulit dibuktikan kebenarannya sehingga menimbul­kan ketidakpastian, pengetahuan justru bertujuan untuk mendapat­kan kepastian. Tidak semua buah pikiran (ide) dapat disebut pengetahuan, karena ada kalanya merupakan angan-angan semata-mata yang tidak pernah terwujud secara nyata. Tidak semua pengetahuan merupakan suatu ilmu. Secara ringkas ilmu atau ilmu pengetahuan itu:  
- merupakan pengetahuan
- yang tersusun secara sistematis
- dengan penggunaan kekuatan pemikiran
- yang selalu dapat diperiksa dan ditelaah dengan kritis.

Ilmu pengetahuan bertujuan agar manusia lebih mengetahui dan mendalami segala segi kehidupan sehingga manusia dapat meramalkan apa yang akan terjadi kelak.

Pada hakekatnya ilmu pengetahuan timbul karena adanya hasrat ingin tahu manusia terhadap aspek-aspek kehidupan yang masih gelap, dan manusia ingin mengetahui kebenaran dari kegelapan tersebut. Usaha-usaha untuk mencari kebenaran tersebut antara lain:

1. Pendekatan non-ilmiah

i)     Penemuan secara kebetulan.
Penemuan yang tidak terencanakan dan diperhitungkan dahulu.
ii)   Penemuan common sense (akal sehat)
Akal sehat merupakan serangkaian konsep atau bagan konsep yang memuaskan untuk digunakan secara praktis.
iii) Penemuan secara wahyu
Kebenaran yang diterima sebagai wahyu dari Tuhan.
iv) Penemuan secara intuitif
Kebenaran yang diperoleh melalui proses yang tidak disadari
v)   Trial and error
Penemuan melalui cara percobaan-percobaan dan kesalahan-kesalahan.
vi) Penemuan karena kewibawaan
Berdasarkan penghormatan terhadap pendapat atau penemuan yang dihasilkan oleh seseorang atau lembaga tertentu yang dianggap mempunyai kewibawaan atau wewenang.
vii)    Usaha spekulatif
Memilih salah satu dari berbagai kemungkinan tetapi tidak berdasarkan keyakinan bahwa pilihan tersebut merupakan cara yang paling tepat.

2. Pendekatan ilmiah:

Menurut sejarahnya ada dua pola pikir:
a.    Berpikir secara rasional, yaitu kebenaran dapat dicapai dengan berpikir rasional tanpa mela­lui pengalaman nyata.
b.    Berpikir secara empirisme, yaitu kebenaran dapat diperoleh melalui pengalaman.


Pendekatan ilmiah menggabungkan metoda rasionalisme dan empirisme rasionalisme memberikan kerangka pemikiran yang logis dan empirisme memberikan kerangka untuk memastikan suatu kebenaran. Kebenaran ilmiah didapat dengan pendekatan ilmiah diperoleh melalui penelitian ilmiah, yang berusaha mempelajari suatu gejala dengan jalan analisis dan pemeriksaan yang mendalam terha­dap fakta atau masalah yang disoroti, untuk kemudian mengusahakan pemecahannya.

Penelitian atau riset (research) menurut bahasa adalah "mencari kembali".
Definisi penelitian adalah :
1.    Suatu usaha untuk mengumpulkan, mencari dan menganalisis fakta
mengenai suatu masalah.
2.    Usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran
suatu pengetahuan yang dilakukan dengan menggunakan metode
ilmiah.
Penelitian dapat disimpulkan sebagai usaha umtuk memperoleh fakta 
atau prinsip (menemukan, mengembangkan, menguji kebenaran) dengan 
cara mengumpulkan dan menganalisis data dilaksanakan dengan
teliti, jelas, sistematik  dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sehingga penelitian mempunyai ciri:
1.    Bersifat ilmiah
Melalui prosedur yang sistematik dengan menggunakan pembuk­tian yang meyakinkan berupa fakta yang diperoleh secara obyektif.
2.    Merupakan suatu proses yang berjalan terus menerus
Sebab hasil suatu penelitian selalu dapat disempurnakan lagi.

Persyaratan Penelitian:
1. Berencana, ada unsur kesengajaan.
2. Sistematis, menurut pola tertentu.
3. Mengikuti konsep ilmiah, sesuai prinsip untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

Sehingga sifat penelitian ilmiah harus: cermat, tepat, dicatat, sistematis, objektif, oleh yang terlatih, dalam kondisi terkendali.

Keberhasilan kegiatan penelitian tergantung pada cara berpikir dan sikap peneliti.
Cara berpikir peneliti:
a)   Skeptis, selalu menanyakan bukti/fakta yang mendukung pernya­taan.
b)  Analisis, selalu menganalisis setiap pernyataan atau persoalan
c)   Kritis, berdasarkan logika, menimbang berbagai hal secara obyektif berdasarkan data dengan akal sehat.

Sikap peneliti:
1. Kompeten, berkemampuan menggunakan metode penelitian tertentu
2. Obyek/tif, dapat memisahkan pendapat pribadi dan kenyataan
3. Jujur, tidak memasukkan keinginan sendiri ke dalam data
4. Faktual, bekerja menggunakan fakta
5. Terbuka, bersedia memberikan dan menerima pendapat tentang hasil penelitiannya. 

Pengelompokan Penelitian:

Berdasarkan Tujuan :
1. Penelitian eksploratif, bertujuan menemukan suatu pengetahuan
2. Penelitian verifikatif, untuk menguji kebenaran suatu pendapat
3. Penelitian developmental, bertujuan mengembangkan suuatu teori

Berdasarkan cara/taraf/tingkatan pembahasan:
i)     Penelitian deskriptif, hanya memaparkan (menyingkapkan) suatu objek sebagaimana adanya.
ii)   Penelitian inferensial, sampai mengambil kesimpulan berdasar data yang diperoleh (memberikan penilaian secara menyeluruh, luas dan mendalam dari sudut pandang  ilmu yang relevan)

Berdasarkan Pendekatan thd data (metode):
1.    Penelitian kuantitatif, mengutamakan data yang dapat diukur (data berupa bilangan/angka)
2.    Penelitian kualitatif, mengutamakan kualitas data untuk mencari makna dari fenomena yang ada (data tidak berupa angka). 

Berdasarkan Pendekatan waktu:
1.    Penelitian longitudinal, penelitian secara berkesinambungan untuk melihat perkembangan objek.
2.    Penelitian cross-sectional, penelitian secara silang (subyek berbeda tetapi masalahnya sama).

Berdasarkan Tempat:
1.    Penelitian laboratorium
2.    Penelitian perpustakaan
3.    Penelitian lapangan

Berdasarkan Pemakaian:
1.    Penelitian murni, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan
2.    Penelitian terapan, hasilnya untuk kebijaksanaan tertentu.

Berdasarkan bidangnya:
1.    Penelitian ilmu eksak/alam
2.    Penelitian ilmu non-eksak/sosial

Langkah pokok penelitian:
1.    Menyusun Rancangan Penelitian
2.    Mengumpulkan data
3.    Mengolah atau menganalisis data
4.    Melaporkan hasil penelitian

MENYUSUN RANCANGAN PENELITIAN SOSIAL

Rancangan penelitian atau proposal penelitian adalah suatu renca­na kegiatan penelitian yang disusun secara sistematis dan menye­luruh mengenai kegiatan penelitian yang akan dilakukan.

Suatu rancangan penelitian umumnya berisi hal-hal sbb:



PROPOSAL PENELITIAN SOSIAL

1. Topik dan Judul Penelitian:
   a. Topik
   b. Judul
2. Permasalahan:
   a. Latar Belakang Masalah
   b. Perumusan Masalah
3. Tujuan Penelitian
4. Manfaat Penelitian
5. Hipotesis (jika ada)
6. Metodologi Penelitian:
   a. Populasi penelitian
   b. Sampel penelitian
   c. Teknik pengumpulan data
   d. Teknik analisis data
7. Waktu, Organisasi dan Biaya Penelitian
   (Jika dipandang perlu)
8. Daftar Pustaka
9. Lampiran



A. Menentukan Topik dan Judul
Topik adalah pokok penelitian yang merupakan ruang lingkup kajian penelitian yang dapat membedakan dengan ruang lingkup yang laiannya (meskipun dalam satu bidang ilmu).
       Contoh: urbanisasi
               kemiskinan dll.

Judul  merupakan bagian tertentu dari topik atau merupakan  salah 
satu  sudut pandang trtentu dari topik atau bisa juga  pembahasan 
yang menyeluruh terhadap topik.
   Judul:
- intisari dari berbagai masalah penelitian
          - harus menggambarkan topik penelitian
          - singkat mencerminkan isi
          - dirumuskan dengan kalimat tunggal (bukan majemuk)
    Contoh:
          - Faktor-faktor yang mendorong urbanisasi di daerah A.
          - Pengaruh urbanisasi terhadap daerah asal.
* Dianjurkan judul ditentukan setelah perumusan masalah.
           
Yang perlu diperhatikan:
   1. Manfaat
   2. Punya wawasan memadai
   3. Sumber dan bahan tersedia
   4. Menarik untuk diteliti
   5. Singkat, jelas dan tidak ambiguitas (bermakna ganda)

Setelah melakukan penelitian langkah selanjutnya dalah membuat laporan penelitian, perhatikan bagan dibawah ini:



Setelah kalian simak video dan materi tersebut maka kerjakan kuis dibawah ini ya



-


Kamis, 12 Maret 2020

Stratifikasi Sosial




Dalam pelajaran Sosiologi kita akan belajar tentang stratifikasi sosial. Stratifikasi sosial ada didekat kita dan tanpa kita sadari kita tidak sudah melakukan dan mempelajari stratifikasi sosial

Secara umum, istilah stratifikasi sosial berasal dari bahasa Latin yaitu, Stratum yang artinya tingkatan dan Socius yang berarti masyarakat atau teman (orang banyak). Dari istilah tersebut, stratifikasi sosial dapat diartikan sebagai tingkatan sosial yang berada di dalam masyarakat.
Stratifikasi sosial merupakan bentuk kiasan yang berasal dari gambaran kondisi yang ada di dalam keadaan kehidupan suatu masyarakat.

Stratifikasi sosial juga dapat diartikan sebagai pengelompokan anggota masyarakat kedalam lapisan-lapisan sosial secara bertingkat. Bisa juga didefinisakn sebagai suatu pengelompokan anggota masyarakat dengan berlandaskan status yang dimilikinya.


Stratifikasi sosial juga bisa dikatakan sebagai pelapisan sosial, karena terdapat perbedaan tingkatan golongan ataupun kelas sosial.

Pengertian Stratifikasi Sosial Menurut Para Ahli

Selain pengertian stratifikasi sosil secara umum, terdapat juga pengertian stratifikasi sosial menurut para ahli, sebagai berikut:

Pitirim A. Sorokin

Mendefinisikan pengertian stratifikasi sosial sebagai pembedaan penduduk atau masyarakat pada berbagai kelas secara bertingkat “hierarkis”.

Bentuk dalam kasus ini yaitu terdapat beberapa lapisan yang berbeda di dalam suatu masyarakat dan dalam setiap lapisan itu disebut dengan strata sosial. Stratifikasi sosial juga sebagai ciri yang tetap dalam setiap kelompok sosial yang teratur.

Sebagian lapisan pada masyarakat memang tidak jelas mengenai batasannya, tetapi akan terlihat bahwa setiap lapisan dari individu-individu yang mempunyai tingkatan atau strata sosial yang secara relatif adalah sama.

Soerjono Soekanto

Mendefinisikan pengertian stratifikasi sosial adalah perbedaan yang ada dalam masyarakat secara vertikal atau bertingkat. Penyebab perbedaan ini banyak dikarenakan adanya latar belakang status dan peranan sosial yang ada di dalam masyarakat itu sendiri.


Robert M. Z. Lawang

Mendefinisikan pengertian stratifikasi sosial adalah pengelompokan orang-orang yang termasuk ke dalam sebuah sistem sosial tertentu pada lapisan-lapisan hierarkis menurut dimensi kekuasaan, privilege dan juga prestise.
Fungsi Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial atau pelapisan sosial memiliki fungsi antara lain:
  1. Berfungsi memecahkan berbagai persoalan yang terjadi di dalam lingkungan masyarakat.
  2. Menjadi suatu alat yang digunakan untuk penditribusian hak dan kewajiban, sebagai contoh dalam menentukan kedudukan, jabatan, penghasilan seseorang dan lain sebagainya.
  3. Sebagai pendorong masyarakat agar dapat bergerak sesuai fungsinya.
  4. Menjadi alat untuk mempersatukan dengan pola mengkordinasikan terhadap bagian-bagian yang ada dalam struktur sosial yang berfungsi untuk mencapai tujuan yang sudah di tentukan sebelumnya.
  5. Menjadi penentu tingkatan mudah atau tidaknya dalam bertukar status ataupun kedudukan di dalam struktur sosial.
  6. Menjadi alat untuk penempatan individu ataupun seseorang dalam suatu strata (lapisan) tertentu di dalam struktur sosial.
Suatu stratifikasi sosial di dalam masyarakat untuk dapat tercipta atau terbentuk harus mempunyai unsur pokok yang membentuknya. Unsur pokok pembentukan stratifikasi sosial sebagai berikut:
1. Peran Sosial
      Seseorang yang mempunyai status sosial dalam masyarakat berarti memiliki hak dan kewajiban.          Suatu kewajiban yang berkaitan dengan status sosial disebut sebagai peran sosial. Oleh sebab itu,        peran sosial dapat diartikan sebagai tingkah laku yang di inginkan seseorang sesuai dengan                  status sosial yang dimiliki.
     Sebab itu juga unsur-unsur startifikasi sosial membentuk sistem pelapisan sosial untuk mencapai          tujuan tertentu.
2. Status Sosial
      Status sosial dapat didefinisikan sebagai kedudukan seseorang dalam suatu kelompok masyarakat. Status sosial seseorang dapat dibagi menjadi tiga bentuk, antara lain:
Achieved status, merupakan suatu kedudukan dalam masyarakat yang dapat diperoleh dengan usaha-usaha nyata dan disengaja. Dari usaha ini akan mendapatkan kedudukan yang sifatnya adalah terbuka bagi semua manusia dalam masyarakat, yang dianggap sesuai kemampuan.
Assigned status, merupakan kedudukan seseorang tentang apa yang diberikan. Dalam artian, suatu kelompok atau golongan masyarakat akan memberikan kedudukan yang Iebih tinggi secara sukarela kepada seseorang yang berjasa atau memperjuangkan sesuatu demi kepentingan masyarakat yang ada di lingkungannya tersebut.
Ascribed status, merupakan status sosial yang diperoleh melalui kelahiran atau keturunan, bukan melalui serangkaian usaha.


Stratifikasi sosial umumnya mempunyai tiga bentuk yang ada pada masyarakat, antara lain:
1. Sistem Kasta

Sistem kasta adalah salah satu dari sistem stratifikasi sosial tertutup, yang mana orang sama sekali tidak dapat merubah status sosial yang ada dalam diri mereka.

Sistem kasta ini ialah sebuah sistem, dimana seseorang yang telah dilahirkan ke dalam status sosial mereka serta akan terus menetap berada didalamnya seumur hidup.

Beserta dengan kasta tersebut, setiap individu memiliki profesi atau pekerjaan tanpa peduli dengan adanya bakat,minat, atau potensi mereka masing-masing. Lebih singkatnya, tidak ada yang dapat memperbaiki posisi seseorang individu tersebut.

Misalnya, pada tradisi agama Hindu, setiap orang diharapkan dapat untuk bekerja serta dapat menikah sesui dengan tingkatan kasta yang ada pada diri merek.
Mewarisi status sosial tersebut dianggap sebagai suatu tugas moral yang bertujuan untuk memperkuat dari berlangsungnya sistem stratifikasi sosial ini sendiri.
2. Sistem Kelas

Sistem kelas sosial di dorong oleh prestasi individu serta faktor sosial. Sistem kelas sosial terdiri dari sekumpulan orang yang memiliki status yang sama dengan faktor penentu. Misalnya kekayaan, pendapatan, pendidikan serta pekerjaan.

Berbeda dari sistem kasta , sistem kelas merupakan sebuah sistem yang bersifat terbuka. Pada sistem ini setiap individu bebas dalam mendapatkan tingkat pendidikan ataupun pekerjaan yang berbeda dengan orang tua mereka.

Selain itu, mereka juga dapat menikahi anggota dari kelas lain yang tidak setara dengan kelasnya. Sehingga lebih memungkinkan seseorang individu berpindah dari satu kelas ke kelas lain.

Pernikahan dalam kondisi seperti ini, umumnya di latar belakangi oleh beberapa faktor seperti cinta dan kecocokan, bukan berarti memfokuskan pada kedudukan sosial ataupun ekonomi.

Meskipun kemampuan sosial mempunyai peran dalam mempengaruhi seorang individu dalam menentukan pasangan dari kelas mereka sendiri. Namun, pada hal ini tidak terdapat tekanan (beban) dalam memilih pasangan pernikahan yang hanya berdasarkan pada kedudukan sosial yang sama (pernikahan endogami).
3. Sistem Meritokrasi

Meritokrasi adalah sebuah sistem yang di latar belakangi oleh keyakinan bahwa stratifikasi sosial ditentukan dengan adanya usaha atau jasa pribadi. Suatu tingkatan usaha yang tinggi akan mempengaruhi individu dalam posisi sosial yang tinggi, begitupun sebaliknya.
Konsep dari sistem meritokrasi di anggap ideal, karena pertama kalinya dalam sejarah masyarakat distratifikasi murni yang berdasarkan dengan prestasi.

Walaupun sebab dari adanya struktur masyarakat yang kompleks, proses seperti sosialisasi, dan juga realitas sistem ekonomi, kedudukan sosial yang sesungguhnya dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya dengan keunggulan usaha saja.


Meskipun sistem meritokrasi sendiri belum pernah terjadi, para sosiolog melihat beberapa aspek dari meritokrasi dalam masyarakat modern ketika mereka sedang mempelajari peran akademik, kinerja kerja, dan juga sistem dalam mengevaluasi sekaligus memberi penghargaan kepada individu.

Menurut pendapat dari ahli sosiologi Soerjono Soekanto, terdapat tiga jenis sifat stratifikasi sosial. Ketiga sifat stratifikasi sosial itu sebagai berikut:
Stratifikasi Sosial Terbuka


Stratifikasi sosial terbuka sering juga disebut dengan Opened Social Stratification akan memberi kemungkinan setiap individu dari segala lapisan dapat melakukan mobilitas sosial, baik mobilitas sosial yang bersifat naik ataupun turun.

Sifat stratifikasi sosial terbuka umumnya terjadi dalam lingkungan masyarakat yang modern serta memiliki tingkat pendidikan tinggi.
Stratifikasi Sosial Tertutup

Stratifikasi sosial tertutup merupakan mobilitas individu untuk dapat melaju dari suatu lapisan sosial tertentu ke dalam lapisan sosial lainnya yang sangat terbatas.

Stratifikasi sosial tertutup umumnya terjadi dalam lingkungan masyarakat yang menetapkan sistem kasta ataupun feodal. Maka akibat dari adanya hal tersebut kemajuan dalam perilaku sangat lambat.
Stratifikasi Sosial Campuran
Stratifikasi sosial campuran merupakan gabungan dari stratifikasi sosial terbuka dan tertutup.

Misalnya, seorang masyarakat dapat bermutasi untuk bekerja sebagai pimpinan dan tidak menutup kemungkinan menjadi bangsawan atau tokoh dalam masyarakat.

Stratifikasi sosial campuran umumnya terjadi dalam lingkungan masyarakat yang memiliki susunan yang heterogen (banyak sifat, atau budaya)

Stratifikasi sosial dapat terbentuk karena beberapa faktor, sebagai berikut:

1. Kekuasaan

Ukuran dari kekuasaan seseorang juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab terbentuknya stratifikasi sosial serta umumnya seseorang yang mempunyai kekuasaan selalu menempati pelapisan sosial golongan atas.

Misalnya, keluarga dari kepala suku atau pejabat akan lebih dihormati.

2. Kekayaan

Seseorang yang mempunyai kekayaan yang lebih biasanya akan termasuk ke dalam lapisan paling atas didalam stratifikasi sosial.

Misalnya, pembagian uang kepada anggota organisasi di mana besarnya berbeda-beda tergantung dengan jabatan dari masing-masing individu.

3. Kehormatan

Seseorang yang paling paling dihormati atau disegani biasanya selalu menempati lapisan paling atas, dapat ditemui di masyarakat.

Misalnya, seperti seseorang yang berjasa besar di lingkungannya.

4. Ilmu

Seseorang yang memiliki ilmu tinggi atau memiliki pengetahuan tinggi, akan menempati urutan paling atas apabila dia mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi di orang-orang di sekitar lingkungannya.

Misalnya, seseorang yang memiliki ilmu lebih akan lebih dihormati dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu. Atau seseorang yang lebih berpengalaman akan lebih diikuti nasehatnya daripada seseorang yang belum berpengalaman.

5. Keturunan

Seseorang yang memiliki keturunan dari keluarga yang di pandang akan memiliki stratifikasi sosial yang tinggi.

Misalnya, keturunan kerajaan akan dianggap sebagai darah biru yang ekslusif atau yang biasa kita sebut sebut sebagai keluarga bangsawan.

Menurut pendapat Huky seorang ahli sosiologi, faktor penyebab stratifikasi sosial adalah sebagai berikut:
Kelangkaan, stratifikasi lambat laun yang ada dikarenakan alokasi hak serta kekuasaan yang jarang atau langka.
Terdapat perbedaan ras, budaya, serta ciri biologis, misalnya warna kulit dan juga latar belakang etnis
Pembagian tugas yang terspesialisai, berhubungan dengan fungsi kekuasaan dan juga status dalam stratifikasi sosial.

Pada stratifikasi sosial terdapat 3 kriteria, antara lain:
1. Kriteria Pendidikan

Kriteria pendidikan dapat membedakan masyarakat berdasarkan tinggi rendahnya tingkat pendidikan yang dapat diperoleh dengan usaha dan kerja keras dalam pendidikan. Jika semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin tinggi pula kedudukan sosialnya dalam. masyarakat.

Sistem pelapisan sosial dengan kriteria pendidikan, misalnya mengenai tingkat pendidikan seseorang dapat di lihat dari lulusan SD, SMP, SMA ,SMK, Perguruan Tinggi hingga jenjang Profesor.

Pada negara kita Indonesia, sistem stratifikasi sosial pendidikan ini masih berlaku pada jenjang pendidikan formal, sedangkan untuk jenjang pendidikan non formal seperti pada gelar di dapatkan dari Pondok Pesantren.
2. Kriteria Politik

Jenis kriteria politik dapat membedakan masyarakat berdasarkan kekuasaan dan peran yang mereka miliki. Ketika semakin besar kekuasaan yang dimiliki seseorang, semakin tinggi juga status sosialnya di dalam kehidupan bermasyarakat. Bentuk suatu kekuasaan dalam kriteria politik sebagai bagian stratifikasi sosial dapat dibagi menjadi tiga jenis tipe pelapisan, antara lain:
Tipe Oligarki, merupakan sistem pelapisan sosial yang masih mempunyai garis pemisah tegas. Tetapi, dasar pembedaan kelas-kelas sosial ditentukan oleh kebudayaan masyarakat. Pada tipe ini, kedudukan setiap individu masih didasarkan pada kelahiran, namun masih diberikan kesempatan naik ke lapisan sosial atas.
Tipe Demokratis, merupakan tipe pelapisan sosial dengan garis pemisah bersifat fleksibel. Faktor kelahiran tidak mempengaruhi pelapisan sosial ini. Misalnya, sistem pelapisan sosial demokratis akan terlihat pada pemimpin politik, pimpinan partai, orang kepercayaan dan pemimpin organisasi besar.
Tipe Kasta, merupakan sistem pelapisan sosial yang sulit untuk melakukan perpindahan status bawah dan ke atas, begitu juga sebaliknya sebab dipisahkan oleh garis tegas dan bersifat kaku. Misalnya, Pelapisan sosial pada tipe ini akan terlihat pada peran dan fungsi di peroleh raja (penguasa), bangsawan, orang-orang yang bekerja di pemerintahan dan pengawal rendah seperti petani, nelayan, dan buruh.
3. Kriteria Ekonomi

Kriteria stratifikasi sosial dalam bidang ekonomi dapat membedakan kelas sosial berdasarkan kepemilikan kekayaan atau penghasilan. Sistem ekonomi dapat membagi pelapisan sosial dalam tiga kelas, yaitu:
Kelas Atas(Upper Class), terdiri dari kelas atas atas, kelas atas menengah, dan kelas atas bawah.
Kelas Menengah (Middle Class), terdiri dari kelas menengah atas, keatas menengah, dan kelas menengah bawah.
Kelas Bawah (Lower Class), terdiri dari kelas bawah atas, kelas bawah menengah, kelas bawah bawah.



Penutup

Nah, mungkin hanya itu saja sobat ilmunik penjelasan yang dapat saya berikan tentang apa itu stratifikasi sosial. Semoga dengan sedikit penjelasan ini dapat membantu dan juga menambah pengetahuan sobat ilmunik. Cukup sekian dan salam dari penulis.

Untuk mempelajari dapat dilihat dibawah ini:




Setelah mempelajari video diatas maka kalian dapat mengerjakan latihan soal dengan memindai / klik barcode seperti dibawah ini:



                                                               Klik/ Scan disini!!



Untuk pengayaan materi dapat berdiskusi tentang kasus dibawah ini:

Bacaan kasus




Setelah membaca coba diskusikan di kolom komentar dari kasus tersebut dengan materi stratifikasi sosial.



Pembatik 2024

Foto